Kamis, 25 Februari 2010

Reaksi Masyarakat Terhadap Kasus Bank Century

Kasus Bank Century menjadi perbincangan seluruh elemen masyarakat di Indonesia dewasa ini setelah aliran dana dari Bank Indonesia (BI) senilai 6,7 Triliun untuk membantu bank tersebut ternyata mengalir entah kemana. Sampai saat ini ada dua nama yang disebut-sebut sebagai dalang di balik kasus ini yang pertama yakni Boediono, mantan gubernur BI yang sekarang menjabat sebagai wapres dan Sri Mulyani yang sampai saat ini menjabat sebagai Menteri Keuangan. Atas kasus tersebut maka munculah desakan dari masyarakat melalui demonstrasi yang menuntut agar Boediono dan Sri Mulyani mundur dari jabatannya sekarang dan diadili sesuai dengan hukum yang berlaku. Dalam orasinya para demonstran ada yang membagikan selembaran guna menghimpun dukungan penyelesaian kasus tersebut, ada yang membakar boneka bergambarkan wajah Sri Mulyani dan Boediono sambil melakukan adegan teatrikal yang menggambarkan penderitaan rakyat dengan berbagai caci maki kepada oknum-oknum yang diduga terlibat, bahkan ada yang menempelkan foto SBY di badan seekor kerbau dan bertuliskan ”Si Buya” yang artinya pemalas. Tidak ketinggalan para nasabah Bank Century pun ikut melakukan demonstrasi dengan cara mereka sendiri, ada yang mendatangi pansus dengan memperlihatkan rekening depositonya agar uangnya dikembalikan dan ada juga yang menginap di Bank tersebut sambil berjualan rujak. Aneh memang, namun itulah wujud demokrasi yang terjadi di Indonesia atas kekecewaan rakyat terhadap pemerintah yang dinilai lamban dalam menyelesaikan masalah. Puncak kekecewaan itu dituangkan dalam demonstrasi besar-besaran yang berpusat di jakarta pada tanggal 10 desember silam yang juga bertepatan dengan hari anti korupsi sedunia.

Selasa, 08 Desember 2009

Keputusan Pembelian Konsumen Dalam Pasar Persaingan Antar Produsen

Persaingan antar produsen dapat terjadi bilamana produsen bersaing untuk mendapatkan konsumen sebanyak-banyaknya. Produsen yang dapat menawarkan produknya dengan harga yang rendah dan kualitas yang baik daripada pesaingnya maka ia akan berpeluang lebih besar untuk mendapatkan konsumen. Dalam prakteknya tidak hanya factor harga dan kualitas saja yang bersaing melainkan juga dari segi promosi, kemasan produk dan pelayanan yang diberikan kepada konsumen.

Persaingan antar produsen ini bias sedemikian sengitnya sehingga dapat melemahkan posisi produsen terhadap konsumen di pasar. Untuk mengantisipasinya maka seorang produsen harus mampu menciptakan image yang positif di masyarakat terhadap produk yang ditawarkan karena bila produsen sudah mampu menciptakan image positif tersebut maka tidak sedikit konsumen yang setia dalam mengkonsumsi produk yang dipasarkan dan hal tersebut dapat meningkatkan keuntungan sekaligus memenangkan persaingan di pasar.

Contoh kasus
Persaingan antar perusahaan jasa telekomunikasi telepon seluler yang tersegmentasi atas GSM dan CDMA dimana produk perusahaan tersebut mempunyai keunggulan dan kelemahan masing-masing, namun dalam promosinya hanya keunggulan yang dipublikasikan guna menggaet konsumen sebayak-banyaknya. Sedangkan kelemahan dari produk itu sendiri hanya konsumen yang dapat menilai melalui persepsi mereka masing-masing. Perusahaan yang baru memasuki pasar tentu akan menjual produknya (baik itu kartu perdana maupun tarifnya) lebih murah daripada produk lain yang sudah ada terlebih dahulu.agar perusahaan baru tersebut dapat bersaing dengan para pendahulunya. Hal tersebut sering kali mempengaruhi keputusan pembelian konsumen dimana konsumen akan berfikir apakah akan setia dengan produk lamanya atau mencoba berspekulasi dengan produk baru yang lebih murah namun konsumen tersebut belum tahu kelemahannya.

Segmentasi Pengunjung Taman Margasatwa Ragunan



Salah satu tempat rekreasi di Jakarta yang cukup terkenal yaitu Taman Margasatwa Ragunan. Kebun binatang ini selalu ramai dikunjungi orang setiap harinya karena letaknya yang strategis karena bisa dijangkau dengan busway, metromini, angkot, maupun kendaraan pribadi. Selai itu harga tiket masuknya yang tergolong relatif murah yakni sebesar Rp 4000 untuk anak-anak dan Rp 5000 untuk dewasa. Harga tiket tersebut sudah termasuk biaya asuransi kecelakaan yakni sebesar Rp 500 per orang.

Dari sudut pandang perilaku konsumen ternyata motivasi orang mengunjungi tempat ini kebanyakan adalah untuk reflesing, atau hanya sekedar jalan-jalan bersama keluarga. Segmentasi untuk kebun binatang Ragunan ini mencakup semua golongan dan lapisan masyarakat yakni mulai dari anak-anak, remaja hingga orang tua baik itu laki-laki maupun perempuan dan tidak membedakan status pekerjaan, ekonomi dan strata di dalam masyarakat karena semuanya memiliki tujuan yang relatif sama yaitu kebutuhan akan reflesing.

Rabu, 25 November 2009

Memanjakan Selera Anak Muda di Kickfest

Kickfest merupakan bazaar tahunan yang diselenggarakan Sasana Budaya Ganesha (Bandung). Bazar ini sudah diadakan sejak tiga tahun yang lalu yang berlangsung dari tanggal 20-22 novembar dan diikuti oleh lebih dari 130distro ternama dengan aneka produk yang berkualitas. Dengan banyaknya distro tersebut tentu tidak berlebihan jika event tahunan ini menjadi surga bagi para pecinta produk distro karena dalam event ini harga yang ditawarkan pun dibawah harga pada umunya.Diskon special dipatok mulai dari 20% hingga 50% bahkan tak jarang ada pula stan yang membanderol harga Rp 100.000 untuk tiga t-shirt yang biasanya dijual dengan harga Rp 90.000. Tawaran harga yang sangat terjangkau tentu menggiurkan bagi para pengunjung. Melihat fakta tersebut tentunya bukan hal yang mencengangkan bila hanya dalam waktu tiga jam sejak pembukaan, event tersebut telah dikunjungi oleh lebih dari 1000 orang pengunjung meskipun untuk memasuki area tersebut pengunjung dikenai bea masuk sebesar Rp 5.000. Adapun produk-produk distro yang dijual antara lain t-shirt, sepatu, kemeja, dompet, tas, topi, sandal, dan aksesoris-sksesoris lainnya.

Kamis, 19 November 2009

Persepsi Konsumen Dalam Mengenali Resiko Produk

Proses pengambilan keputusan dalam membeli merupakan proses pemecahan masalah oleh konsumen mengenai produk atau jasa yang hendak dibeli dengan cara memilih perilaku yang ingin ditampilkan melalui tahapan-tahapan pembelian. Salah satu faktor yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan dalam membeli adalah persepsi konsumen terhadap resiko. Situasi pembelian yang dirasakan oleh seorang konsumen dapat membuatnya mempersepsikan adanya resiko. Persepsi konsumen terhadap resiko merupakan proses di mana seorang konsumen menerima, mengenali dan memahami rangsangan yang datang pada dirinya, lewat insting yang ada dan menimbulkan perasaan bahwa keputusan pembelian yang dibuatnya memiliki kemungkinan mendatangkan konsekuensi yang tidak menyenangkan. Dalam melakukan pembelian terhadap suatu produk, konsumen tentu tidak ingin dirugikan dengan resiko yang kemungkinan timbul, misalnya dalam pembelian produk elektronik tentunya konsumen akan memilih produk mana yang merknya terjamin mutunya, walaupun harga yang ditawarkan lebih mahal. Disisi lain produsen juga menyediakan garansi bagi para konsumen agar persepsi konsumen terhadap produk tersebut menjadi positif dan agar produsen tidak kehilangan konsumen

Rabu, 18 November 2009

KRL Ekonomi AC Membentuk Motivasi Konsumen

Dalam kehidupan sehari-har, tentunya banyak warga di wilayah jabodetabek yang beraktivitas dengan menggunakan jasa Kereta Rel Listrik (KRL) ekonomi. Transportasi yang satu ini amat digemari oleh masyarakat karena disamping cepat, biaya yang dikeluarkan untuk dapat menggunakan KRL tersebut relative murah jika dibandingkan dengan transportasi lain.Maka tak jarang bahwa KRL ekonomi setiap harinya selalu dipenuhi oleh penumpang sampai-sampai banyak dari mereka yang rela menunggu lama,berdesakan atau bahkan naik di atap kereta hanya untuk mencapai tempat tujuan. Melihat hal tersebut PT.KAI memberikan solusi berupa pengadaan KRL ekonomi AC yang mulai beroperasi beberapa tahun lalu. KRL tersebut sangat diminati oleh masyarakat karena hanya dengan membeli tiket seharga 6000 rupiah, masyarakat sudah dapat menikmati perjalanan dengan lebih nyaman daripada dengan menggunakan KRL ekonomi biasa. Namun tidak sedikit dari para pengguna jasa KRL ini yang beranggapan bahwa dengan menggunakan KRL ekonomi AC akan membentuk motivasi tersendiri. Bila dilihat dari sudut perilaku konsumen maka motivasi tersebut bisa dikategorikan sebagai bentuk motivasi harga diri, alasannya agar para pengguna jasa KRL ekonomi AC dilihat sebagai masyarakat yang tergolong ke dalam ekonomi menengah ke atas. Padahal tidak semua penumpang yang menggunakan KRL ini adalah masyarakat yang kategori ekonominya menengah ke atas melainkan juga dari semua lapisan masyarakat.

Rabu, 04 November 2009

Dago : Surga Belanja Warga Jakarta

Dago merupakan salah satu kawasan di Bandung yang ramai dikunjungi orang setiap harinya. Kebanyakan dari mereka adalah warga Jakarta yang sengaja datang jauh-jauh hanya untuk bebelanja di Factory Outlet (FO) yang menjamur di kawasan tersebut. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Bukankah di Jakarta banyak terdapat FO yang tidak kalah bagus? Mungkin tidak sedikit dari mereka yang beranggapan bahwa bebelanja di dago akan mendapatkan kepuasan tersendiri disamping harganya yang jauh lebih murah dan kualitas yang jauh lebih baik daripada di Jakarta. Ibarat sambil menyelam minum air, mereka pergi ke Dago tidak hanya untuk belanja, melainkan juga untuk weekend bersama teman atau keluarga. Dari uraian tersebut maka dapat diketahui bahwa motivasi seseorang dalam berbelanja karena didasari oleh faktor harga dan kualitas barang. Semakin tinggi kualitas barang dan semakin rendah harga yang ditawarkan maka akan semakin besar motivasi seseorang untuk membeli barang tersebut